Sebelumnya Allah telah membuat kontrak perjanjian sepihak kepada setiap nafs/jiwa manusia yang akan terlahir ke dunia ini, manusia tinggal menyetujui atau menolaknya tanpa tawar-menawar.
Persyaratannya adalah menjawab pertanyaan
apakah aku ini Tuhan mu?
bila manusia menyetujui dan menjawab yamaka ia
akan terlahir ke dunia. dan bila menolak dan menjawab tidakmaka ia tidak akan
terlahir ke dunia.
seperti halnya penyedia aplikasi yang
mengajukan persyaratan kepada pengguna bilamana aplikasi akan diinstal di
komputernya.pengguna tinggal menekan tombol setuju/mulai/lanjutkan atau
batal/cancel.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?"Mereka menjawab:
"Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan)".(Al A'raaf :172)
Perjanjian ini kemudian berkonsekuensi
mengenai hak dan kewajiban pengguna terhadap penyedia layanan. dan perjanjian
ini bersifat mengikat dan mempunyai konsekuensi hukum atau sanksi.
Adapun hak-hak yang didapatkan manusia dari
Allah diantaranya adalah hak mendapatkan rezeki
۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى
اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ
مُّبِيْنٍ
Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan
semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat
penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).(Hud:6)
Dan kewajiban manusia terhadap Allah
diantaranya adalah menghambakan diri dan mengesakannya
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ
اَنْ يُّطْعِمُوْنِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka
beribadah kepada-Ku.
Aku tidak menghendaki
rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi
makan kepada-Ku.(Aż-Żāriyāt :56-57)
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan
orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.(Al-Baqarah :21)
Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak
menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.(Annisa:36)
Hanya saja di awal pertumbuhannya nafs/jiwa
lalai akan janji primordial ini dikarenakan masa ini adalah masa di mana
terbentuknya jasad fisik yang didominasi oleh panca indra yang mulai belajar
mengenal dunia nyata(empirisme). sehingga fokus nafs bergeser dari memandang
Tuhan kepada dunia nyata. Seiring berjalannya waktu manusia kecil ini hidupnya
berdasarkan apa yang dilihat,didengar,dirasakan secara langsung tentang dunia
dan hidupnya selalu dipengaruhi oleh lingkungannya.
Pada masa ini manusia statusnya masih dalam
kondisi suci/fitrah, belum terbebani oleh hukum-hukum Tuhan dan buku catatan
amalnya belum aktif. hal ini terus berlangsung sampai menginjak aqil baligh.
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ
لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ
ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati
nurani, agar kamu bersyukur.(An-Naḥl :78)
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ
فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ
Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah
kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu,
memperdayakan kamu tentang Allah.(Fāṭir:5)
Karena manusia di dunia ini bersifat lupa dan
lalai maka Allah mengutus rasul dan menurunkan kitab suci yang tujuannya untuk
mengingatkan ikrar lama yang sudah tertanam dalam fitrah alam bawah sadar
manusia, sekaligus memberikan pengajaran pengajaran.
وَلَقَدْ عَهِدْنَآ اِلٰٓى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ
وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا
Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia
lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.(Ṭāhā :115)
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّا مُبَشِّرِيْنَ
وَمُنْذِرِيْنَۚ فَمَنْ اٰمَنَ وَاَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Para rasul yang Kami utus itu adalah untuk memberi kabar gembira
dan memberi peringatan. Barangsiapa beriman dan mengadakan perbaikan, maka
tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.(Al-Anām :48)
كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ
يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَۗ
Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad)
dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan
mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan
apa yang belum kamu ketahui.
(Al-Baqarah :151)
تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ
لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًا ۙ
Maha Suci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur'an) kepada
hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam
(jin dan manusia).(Al-Furqān :1)
وَاَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ
وَلَا تَنْقُضُوا الْاَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّٰهَ عَلَيْكُمْ
كَفِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ
Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan
janganlah kamu melanggar sumpah, setelah diikrarkan, sedang kamu telah
menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang kamu perbuat.(An-Naḥl :91)
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ
اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ
الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai)
fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.Tidak
ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(Ar-Rūm :30)
MANUSIA HARUS SADARKAN DIRI DAN TIDAK BOLEH
LALAI.
Hal yang paling penting bagi orang yang sudah
mulai bisa berpikir adalah mengenali Tuhan.
Secara fitrah manusia sadar bahwa dirinya
terkooptasi tunduk dan patuh secara mutlak oleh sistem-sistem dan hukum-hukum
Tuhan yang berlaku di alam semesta ini.
اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ
مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ
Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah,
padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri/tunduk kepada-Nya, (baik)
dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?(Āli
Imrān :83)
Manusia merasakan adanya kekuatan yang
berkehendak,menciptakan,mengatur, mengendalikan,mendesain semua yang ada di
alam semesta ini.
هَلْ أَتَىٰ عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ حِينٌ مِّنَ ٱلدَّهْرِ
لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا
اِنَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍۖ
نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang
dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
Sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. Kami hendak
mengujinya (dengan perintah dan larangan) sehingga menjadikannya dapat
mendengar dan melihat.(Al Insaan 1-2)
Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari
langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan
penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala
urusan?"Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah
"Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?"(Yunus :31)
Manusia merasa lemah dan menyadari tidak mampu
melawan kekuatan itu.
termasuk tidak mampu melawan penuaan dan
kematian
يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ
الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia diciptakan
(dalam keadaan) lemah.(An-Nisā' :28)
۞ اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ
جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً
ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ
Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian
Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah
(kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia
kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.(Ar-Rūm :54)
اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ
وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ
Di mana pun kamu berada, kematian akan mendatangimu, meskipun kamu
berada dalam benteng yang kukuh. (An-Nisa: 78)
قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا
اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَلَا
يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), "Aku tidak kuasa (menolak)
mudarat dan tidak pula (mendatangkan) manfaat kepada diriku, kecuali apa yang
Allah kehendaki."Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya
tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak (pula) dapat
meminta percepatan."(Yunus: 49)
Dan manusia ketika merasa lemah dan tidak
mampu menghadapi kesulitan, ketidak pastian dan bahaya maka ingin mencari
kekuatan itu untuk menolongnya dan dijadikan sandaran.
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa(minta tolong) kepada
Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan
bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak
pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.
Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa
yang mereka kerjakan.(Yūnus :12)
فَاِذَا رَكِبُوْا فِى الْفُلْكِ دَعَوُا اللّٰهَ
مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۚ فَلَمَّا نَجّٰىهُمْ اِلَى الْبَرِّ اِذَا هُمْ يُشْرِكُوْنَۙ
Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa (minta tolong)
kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika
Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali)
mempersekutukan (Allah).(Al-Ankabūt :65)
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan manusia
menyimpang dari fitrahnya ada dalam tulisan lain yang berjudul TAUFIK DAN
HIDAYAH.
(Penulis:KH M.Aminuddin)
0 Komentar