BIOGRAFI K.H. MUHSHONUDDIN
Beliau adalah putra kyai Adnan.Kyai Adnan adalah seorang imam mushola sekaligus guru mengaji. seseorang yang di masa sepuhnya oleh warganya dikesankan identik dengan pakaian yang serba putih, dengan model pakaian yang lazim dikenakan oleh kyai kyai kampung jaman dulu yaitu perpaduan sarung,baju sorjan, dan udeng kepala. Dahulu rumahnya berada di sebelah selatan masjid yang sekarang menjadi halaman pondok.
K.H. Muhshonuddin (1965)
Ny. Hj. Nurul Istiqomah (1985)
KH muhshonuddin lahir tahun 1934.Di Masa kecilnya beliau diasuh oleh orang tuanya sendiri dan dimasukkan di sekolah rakyat yang sekarang sudah berubah menjadi SDN kaliabu yang jarak dari rumahnya hanya 100 meter.dan selanjutnya beliau pergi belajar ke pondok Sugihan kajoran kemudian pindah ke pondok KH Chudori Tegalrejo. kemudian di usia yang ke-19 beliau melanjutkan belajarnya ke Kediri berguru kepada KH zamroji dan KH Ahmadi. selain belajar di madrasah robithoh beliau di sana juga berguru tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah, selain kepada KH zamroji, secara periodik beliau juga berguru kepada KH Romli Tamim Jombang sampai beliau mendapatkan ijazah sebagai Mursyid.
Setelah tamat madrasah robithoh pada hari rabu legi 6 jumadil akhir 1378H/17 desember 1958 M beliau dijemput dan didampingi oleh pamannya Ky Abdul ghoffar pamit dan mohon doa restu kepada gurunya untuk pulang kembali ke orang tuanya dan mengabdi kepada masyarakatnya. progres prioritas beliau adalah melanjutkan dan mengembangkan pendidikan atau pengajian yang telah dirintis oleh orang tuanya.
foto di pondok Kediri 1956
PENGAJIAN PENGAJIAN
Beliau tetap mempertahankan dan melestarikan pengajian yang sudah ada dan sudah berjalan sebelumnya. diantaranya adalah pengajian mingguan untuk para orang orang tua warga sekitar yang diselenggarakan setiap hari Jumat setelah waktu dzuhur di mushola, pengajian ini awalnya diasuh oleh Kyai Adnan dan setelah beliau sepuh kemudian digantikan oleh kyai Abdul Ghofar, dan setelah kyai Abdul Gofar wafat kemudian digantikan oleh kyai Abu Thalib dan kyai Nuhairi secara bergiliran. pengajian ini masih berjalan sampai sekarang dan sudah mengalami banyak pergantian pengasuh.
Ada juga pengajian selapanan/weton yang diadakan setiap hari Ahad legi mulai jam 10 pagi sampai 1 siang. pengajian ini bersifat umum dan banyak dihadiri oleh masyarakat dari luar daerah dan mulai pagi- pagi sudah banyak orang berjualan makanan,pakaian,mainan anak anak dan lain sebagainya,sehingga suasana di luar komplek pondok sangat ramai seperti pasar.orang yang hadir tidak hanya orang yang berniat untuk mengaji saja tetapi juga orang-orang yang ingin berbelanja mencari keperluan rumah tangga dan orang-orang yang hanya ingin berplesiran saja.penggajian ini juga mendatangkan mubaligh mubaligh dari luar daerah seperti KHR As'ari dari demesan tempuran dan lain lain. adapun susunan acara pengajian ini biasanya diawali dengan melantunkan lagu-lagu syair atau sholawat yang dibawakan oleh kyai Abu Thalib. selanjutnya adalah pengajian masalah Ubudiyah oleh Kyai Abdul ghofar, kemudian tausiyah yang hanya beberapa menit oleh KH muhsonudin dan baru kemudian pengajian inti dan doa. pengajian ini tetap berjalan lestari sampai sekarang,namun sepeninggalnya kyai Abdul Ghofar dan KH Muhsonuddin pengajian ini mengalami penurunan yang sangat drastis dan jadwal waktunya digeser menjadi sore hari karena disesuaikan dengan berubahnya situasi kondisi.
Selain itu beliau juga mengadakan pengajian baru yaitu pengajian bulanan tentang ajaran dan amalan tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah diperuntukkan bagi siapapun yang ingin mengikutinya.pengajian ini diadakan setiap tanggal 11 berdasarkan kalender Hijriyah.pengajian ini tetap bertahan dan tetap berlangsung sampai sekarang walaupun pasca sepeninggal beliau mengalami banyak penurunan dan pergantian pengasuh, yang diantaranya adalah Kyai Arfan Maghfur, Kyai nur hamim dan kyai ihsani.
Adapun acara yang bersifat tahunan,di setiap bulan Sya'ban/ruwah diadakan tasyakuran dan haflah akhirussanah bagi santri-santri yang telah tamat madrasah dan dihadirkan pula mubaligh yang sedang viral pada saat itu untuk mengisi ceramah.acara ini bersifat umum dan dihadiri oleh keluarga santri,alumni serta berbagai kalangan masyarakat.pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat juga ikut diundang. acara ini merupakan acara yang paling ramai dalam setiap tahunnya, karena sebelum dan sesudah acara ini diadakan juga pagelaran seni budaya dan bazar.
Selain sibuk mengelola pendidikan nya beliau juga sempat berprofesi sebagai mubaligh yang berdakwah ke sana kemari. bahkan beliau memiliki semacam team organizer. memiliki genset dan sound system sendiri serta MC dan qori sendiri. sebagai mc-nya biasanya bapak Muhsan adiknya sendiri dan sebagai qorinya biasanya Bapak Rahman dari dusun kopen
Beliau juga bersemangat di dalam ikut memperjuangkan organisasi NU. di era tahun 60-an di pondoknya sering diadakan acara-acara ke nu-an terutama kegiatan ansor kabupaten Magelang seperti pelatihan,pengkaderan dan dijadikan markas pelatihan drumband ansor Magelang.
bahkan pasca peristiwa G30S PKI pondok ini dijadikan tempat yang dulu disebut dengan istilah gemblengan yang banyak diikuti pemuda-pemuda dari banyak penjuru dari berbagai kalangan tidak hanya dari kalangan nahdliyyin saja. adapun kegiatan ini diasuh langsung oleh beliau KH mushonudin dan KH Mughni sodiq dari sonopinggir juwet ngronggot Nganjuk. bermula dari sinilah beliau banyak kenal dengan pejabat-pejabat pemerintah dan militer dan dari mereka mereka beliau lebih mengenal tentang dunia birokrasi dan politik.bahkan jauh sebelum menjadi presiden,di masa-masa awal perjuanganya yang dalam tekanan rezim orde Baru, ibu Megawati Soekarno putri juga sempat berkunjung untuk bersilaturahmi dan minta kepada beliau untuk selalu didoakan dan setelah beliau wafat ibu Megawati berkunjung kembali yang kedua kalinya untuk berziarah.adapun di masa-masa akhir hidupnya beliau berkhidmah di jajaran syuriah dan istrinya di kepengurusan muslimat PCNU kabupaten Magelang.
Adapun hal-hal yang telah tersebut itu maka menjadikan pondok pesantren Mambaul Huda sudah dikenal oleh masyarakat luas sejak era 60-an.dan ditahun 80-an santri santri nya juga sudah banyak yang datang dari berbagai penjuru nusantara.
KH Muhsonuddin,Ny Hj Nurul Istiqomah dan ibu Megawati Soekarnoputri (1994)
Ny Hj Nurul Istiqomah dan ibu Megawati Soekarnoputri (1996)
MENDIRIKAN MADRASAH DINIYAH DAN CIKAL BAKAL MTS AL ISLAM WONOGIRI
Adapun untuk pengajian kalangan remaja dan dewasa yang dulunya masih memakai metode ala kuno seperti sorogan dan bandongan yang masih bertempat di mushola maupun di balai yang diasuh oleh Ky Adnan (Ayah) dan Ky Abdul goffar (Paman dari ibu) kemudian diubah menjadi sistem madrasah dan berkelas-kelas oleh karena kepulangan beliau ini menjadikan semakin banyaknya peserta pengajian yang terdiri dari banyak tingkatan umur baik laki-laki maupun perempuan,dan bahkan tidak sedikit yang umurnya lebih tua dari pada beliau. Para peserta pengajian madrasah ini berasal dari peserta pengajian mushola atau masjid baik yang berada di daerah kaliabu maupun dari daerah lain yang kemudian laju dari rumahnya maupun yang langsung menginap dan menetap di pondok.
Lalu kemudian Beliau dengan Pamannya Ky Abdul Ghaffar seorang Lurah yang sekaligus menjadi pembimbingnya, bersama sama warga masyarakat membangun ruang ruang kelas dengan bahan gedek bambu yang sederhana di atas tanah milik seorang peserta pengajian yang bernama Bapak Soim suhadi yang di kemudian hari beliau menjadi BP3 MI (sebelum dijabat Ky Komari), guru dan khotib Jumat.Tanah ini posisinya berada di sebelah Selatan Tanah jariyah Nyai Aminah dan sebelah barat masjid, dan di kemudian hari beliau mewakafkan dan KH Muhsonudin sebagai Nadzirnya. Madrasah ini diberi nama perguruan Al Islam karena menisbatkan namanya dengan nama Perguruan Islam milik gurunya KH Chudlori Tegalrejo, di samping karena tafaulan juga karena dinamika pemberian nama pada pondok dan madrasah belum begitu lazim pada masa itu. nama Mambaul huda juga belum ada dan tempat untuk penginapan santri cukup disebut dengan Asrama pondok pesantren.Madrasah ini jadwal masuknya sore hari setelah dzuhur dikarenakan di pagi harinya banyak anak-anak termasuk anak pondok yang mengikuti sekolah di SD. dan anak-anak yang mengikuti Madrasah ini biasanya sudah bisa membaca Alquran karena sudah belajar di musholanya masing-masing setiap waktu maghrib dan di musholanya tetap terus melanjutkan sampai khatam. Adapun anak-anak pondok yang yang masih baru dan belum bisa membaca Alquran, oleh beliau dijatahkan kepada Ky nuhairi.Ky Nuhairi adalah tetangga sebelah utara pondok, kemudian kyai nuhairi mendirikan Langgar di depan rumahnya yang langgar ini sekaligus melestarikan langgar kakak iparnya di dusun Ngampel yang telah ditinggalkannya.
Oleh karena Madrasah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat maka empat tahun kemudian tepatnya tahun 1963 bangunan bambu ini dipugar dan dibangun kembali secara permanen dengan memakai bahan material batu bata. di antara tukang batunya adalah bapak Soma dari dusun Demangan dan tukang kayunya bapak Muhroni dari dusun Losari, dan selama proses pembangunan, kegiatan belajar mengajar menumpang di masjid,dibalai dan di rumah-rumah warga.
(1963)1. madin baru 2.balai 3.masjid lama 4. kantor pondok 5.kebun
Beberapa tahun kemudian Madrasah ini distatuskan sebagai Madrasah ibtidaiyah kemudian murid-murid generasi awal belajarnya tetap terus berlanjut ke kelas berikutnya dan distatuskan sebagai Madrasah Tsanawiyah. Madrasah Tsanawiyah ini di tengah-tengah perjalanannya ditambah materi-materi pelajaran umum seperti aljabar,ilmu alam dan bahasa Indonesia untuk dipersiapkan menjadi sekolah PGA jenjang empat tahun,akan tetapi sekitar awal tahun 70an hanya sedikit peserta dari anak pondok dan dari warga sekitar.justru yang banyak adalah anak yang laju dari desa Wonogiri dan di sisi lain karena adanya usulan/permintaan dan disediakannya tanah wakaf maka kemudian Madrasah Tsanawiyah tersebut dipindah ke dusun Tuanan desa Wonogiri, didirikan diatas tanah wakafnya bapak Jawari dan pengelolaan dipercayakan kepada Bapak KH Khodim dan Bapak Slamet dari dusun Kantor Kaliabu.
CIKAL BAKAL BERDIRINYA PONDOK PESANTREN
Belum genap setahun beliau bermukim sudah ada beberapa peserta pengajian yang menginap, ada yang numpang di rumah keluarga beliau dan ada yang ngemper dibalai mushola,bahkan ada adik santri juniornya dari pondok Kediri yang juga ikut menyusul ke sini, dan semakin hari semakin bertambah banyak peserta pengajian yang datang dari tempat yang semakin jauh. maka kemudian dengan segala keterbatasannya beliau selain membangun madrasah, juga mendirikan kamar-kamar yang sangat sederhana dan alakadarnya dari bambu dan kayu model planggrong/panggung untuk menyediakan tempat penginapan sementara bagi peserta pengajian yang bermukim. setelah proses pembangunan selesai kemudian diresmikan dengan istighosah dan doa pada jam 20.30 WIS malam hari ahad Kliwon 7 dzulhijjah 1378 H/14 Juni 1959 M.
Kemudian tahun 1961 beliau membangun masjid dan dilanjutkan dengan membangun aula,kantor pondok, ruang tamu dan tempat pertemuan di sebelah timurnya masjid. baru kemudian membangun rumah pribadinya tepat dibelakang ruang tamu dan tempat pertemuan, dan semua bangunan itu satu dengan yang lainya atapnya saling menyatu/bersambung. baru kemudian beliau menikah tahun 1963 di umur 29 tahun dengan Ny Siti Asfiyah dan mempunyai satu orang anak yang meninggal dunia ketika masih kecil.namun tidak lama kemudian mereka berdua berpisah,kemudian tahun 1965 menikah lagi dengan adiknya yaitu Ny Jamaatus Sibtiyah alias:Ny Nurul Istiqomah dan dari pernikahan ini melahirkan 7 orang anak namun anak yang ke 4 meninggal dunia ketika masih kecil.
.(1964)dihalaman pondok 1.KH muhshonudin 2.Ky Abdulgoffar 3.Ky Abutholib
ustadz dan aparatur pemerintah 4.asrama pondok pesantren salafijah gg.kantor kaliabu
(1964)di kantor pondok bersama pak camat
SEJARAH BERUBAHNYA MUSHOLA MENJADI MASJID
Pendirian masjid pada tahun 1961 ini dilatar belakangi oleh karena semakin banyaknya santri yang bermukim dan keinginan warga sekitar karena beratnya melaksanakan ibadah jumatan di masjid yang ada di dusun lain yang sudah tidak lagi memadai, lebih-lebih bila datang musim hujan. maka beliau dan Ky Abdul Ghofar sowan KH Abdul Hamid kajoran guna mengadukan akan hal ini, dan atas Restunya maka mushola yang sudah ada dibongkar kemudian dibangun kembali dengan diberi mustaka/kubah dan dibuatkan bedug walaupun berukuran kecil. kubah dan bedug adalah dua ciri khas masjid yang membedakan dengan mushola menurut komunitas masyarakat tertentu pada zamannya. lalu tiga tahun kemudian ada salah satu jamaahnya dari dusun Bompon desa Wonogiri yang menyumbangkan pohon hidup di kebun nya, yang kemudian dijadikan bedug dengan ukuran yang lebih besar dengan diameter 125 cm dan panjang 170 cm ,dan masih ada sampai sekarang beserta kentonganya.
terdapat ukiran 25 Dzulqa'dah 1383 Hijriyah (8 April 1964 Masehi)
walaupun masjid ini sudah dibangun secara permanen dengan menggunakan material batu bata namun sekitar duabelas tahun kemudian masih dirasa kurang luas, lalu dibongkar lagi dan dibangun kembali. pembangunan ini diawali dengan peletakan 4 batu umpak dan pendirian soko guru, pada malam Ahad pahing jam 09 29 Desember 1974 setelah melakukan jamaah isya dan doa bersama. dan diresmikan dengan pemasangan kubah pada hari Selasa Pon jam 10 siang tahun baru Hijriyah 1395H.
dan selama proses pembangunan masjid ini berjalan di sisi lain dilakukan juga pemangkisan/pembaruan kulit bedug yang selesai pada hari Selasa Pon 5 Maret 1974
CIKAL BAKAL BERDIRINYA MI AL ISLAM DAN TK AL ISLAM
Beliau juga mempunyai komitmen untuk selalu beradaptasi dengan zamannya. hal ini bisa dibaca dari cara beliau menyikapi fenomena-fenomena yang terjadi di tahun 60-an dan 70-an bahwa banyak tokoh-tokoh Islam yang mendesak kepada kementerian agama untuk memperbanyak sekolah-sekolah pendidikan guru agama (PGA) dan mentransformasikan Madrasah Diniyah swasta yang biasanya didirikan oleh tokoh-tokoh agama setempat ini menjadi madrasah ibtidaiyah umum/formal dan ustadz-ustadznya bisa bertransformasi menjadi guru PNS.yang sebetulnya program ini adalah menindak lanjuti program Madrasah Wajib Belajar (MWB) yang diinisiasi oleh menteri agama KH Wahid Hasyim pada tahun 1951,dan tahun ini kemudian dijadikan tahun berdirinya madrasah dalam dokumen resminya.
Kemudian beliau menyarankan kepada para ustadz-stadzah madrasahnya dan alumni-alumni pondok pesantren untuk mendaftarkan diri ke sekolah PGA bagi yang mempunyai ijazah SR atau SD dan bagi yang tidak memiliki syarat-syaratnya beliau pun membantu mengupayakannya, seperti KH Bilal dari sawangargo,KH khodim,Ky Musa maksum,Bapak Ahmad Dawam dan lain sebagainya.Empat tahun kemudian mereka lulus dan dalam proses menjadi guru PNS. kemudian sebagian dari mereka ada yang bertugas di sekolah lain dan sebagian yang lainnya dipanggil dan dikumpulkan guna bermusyawarah membahas rencana dan persiapan transformasi Madrasah Diniyah ke madrasah umum. kemudian mulai tahun ajaran baru tahun 1972 pelajaran Madrasah mulai di akselerasikan dengan pelajaran-pelajaran umum dan jam masuknya yang tadinya sore lalu diganti menjadi pagi hari secara bertahap. 6 tahun kemudian murid-murid kelas 6 siap mengikuti ujian madrasah yang diselenggarakan kementerian agama, lalu sebagai pra syaratnya Madrasah juga harus didaftarkan kekementerian agama sehingga tahun 1977 madrasah ini mendapatkan piagam dan terdaftar di kementerian agama.hal semacam ini banyak terjadi di berbagai tempat tidak hanya di sini saja.dan setelah proses transformasi ini di tengah perjalanan sebagian guru-gurunya ada yang memilih/diminta bertugas di sekolah lain. pada mulanya pengelolaan sekolah dipercayakan kepada KH Bilal dari Sawangargo desa Krasak,akan tetapi karena KH Bilal sangat dibutuhkan oleh warga masyarakatnya maka kemudian operan akselerasi tugas dengan Bapak Ikhwan yang suka dari sawangargo dan pengelolaan sekolah dipercayakan kepada Bapak Suroso BA dari dusun Demangan Timur dan Bapak kyai Musa maksum dari dusun kopen serta ditemani beberapa guru lainya.Dan sejak itu beliau lebih banyak memfokuskan diri untuk mengurus ekonomi keluarga dan pondoknya dikarenakan anak-anaknya yang semakin bertambah serta semakin bertumbuh besar yang tentunya kebutuhan biaya kesejahteraan hidupnya juga semakin bertambah. Beliau menolak untuk diangkat menjadi PNS oleh pemerintah dan hanya bersedia diangkat menjadi guru honorer dan slip gaji diserahkan ke pihak sekolah untuk diurus dan digunakan untuk kesejahteraan sekolah. beliau lebih memilih untuk terus mengelola perkebunannya, produksi minyak kelapa (klentik),agen minyak tanah untuk lampu penerangan sebelum masuk listrik tahun 1981, kemudian membuatkan usaha untuk istrinya dengan membuka warung kelontong dan produksi es untuk disetorkan ke warung-warung. adapun kesibukan untuk pondoknya meliputi penataan kembali pelajaran-pelajaran dan kegiatan-kegiatan santri-santri, dan mulai dari sinilah muncul nama Mambaul Huda. kemudian juga menyibukkan diri dengan pembangunan-pembangunan asrama serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pusat informasi pesantren dan balai latihan kerja (BLK) seperti pertukangan, peternakan dan perbengkelan bagi Santri putra dan pelatihan menjahit bagi santri Putri sampai kemudian pada tahun 1985 beliau mendirikan sekolah MTs dan tahun 1986 membuka pondok untuk kalangan anak-anak usia MI dan TK.
(1990) santri anak-anak di depan ruang tamu
santri putri mengaji di serambi masjid (1979)
Pada waktu musyawarah yang membahas persiapan transformasi Madrasah Diniyah ke madrasah umum juga muncul ide untuk mendirikan sekolah taman kanak-kanak dengan tujuan membantu orang tua di dalam mengasuh anak-anaknya dan mempersiapkan calon-calon murid baru Madrasah ibtidaiyah. kemudian didirikanlah sekolah taman kanak-kanak/ Roudlotul Athfal. dan sebagai gurunya ditunjuklah guru madrasah yang bernama ibu sudariyah dari dusun kopen, yang kemudian dilanjutkan ibu mustarikah dari dusun kantor dan diteruskan ibu banatul Istiqomah dari dusun krajan. bangunan TK ini berupa rumah kayu bekas rumah warga dan didirikan di sebelah barat MI. lalu setelah berjalan beberapa tahun bangunan itu mengalami pelapukan, kemudian pindah menempati rumah kosong milik bapak bahrodi yang terletak di sebelah utara masjid jarak sekitar 40 meter. baru kemudian di tahun 1980 pindah dan menyatu dengan MI terletak di bagian paling timur setelah sebelumnya direnovasi dan diadakan penataan terlebih dahulu.dan selama proses renovasi ini untuk sementara waktu kegiatan belajar mengajar menumpang di rumah-rumah warga.Dan di waktu kemudian karena bagi wali murid yang dari dusun Losari dirasa dalam mengantarkan anak-anaknya ke sekolah terlalu jauh jarak perjalanannya maka hal ini oleh KH Abdul Goffar diserahkan kepada ibu-ibu muslimat, kemudian ibu-ibu muslimat berinisiatif untuk membuka cabang TK 2 Al Islam di dusun Losari dan mengangkat ibu Purwati sebagai gurunya.Sekolah TK 2 ini didirikan oleh jamaah ibu-ibu muslimat ranting kaliabu yang pada waktu itu organisasi ini sudah terbentuk dan eksis kegiatannya. dan TK2 pendirinya di atas namakan yayasan maarif.
baik TK 1 maupun TK 2 ini sejak awal berdirinya sudah sangat melekat dengan ibu-ibu muslimat . karena tentang pengelolaan sekolah, gurunya mengadunya ke Ny Latifah dan Ny Hj Nurul Istiqomah yang merupakan pengurus dan kader muslimat yang kemudian permasalahan sekolah ini dibahas bersama bersama dengan ibu-ibu muslimat yang lain terutama mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan saat-saat akan ada peninjauan dari pegawai Kemenag dan acara kelulusan.
Ny Hj Nurul Istiqomah memberikan sambutan di acara muslimat anak cabang
Ny. Hj. Nurul Istiqomah kongres muslimat di Jakarta
Adapun TK 1 dan MI Al Islam adalah sekolah yang merupakan transformasi dari Madrasah Diniyah yang bernama Perguruan Islam, sebuah lembaga non formal biasa yang bergerak dalam bidang pendidikan agama Islam dan tidak/belum berbadan hukum seperti halnya yayasan. lembaga ini didirikan oleh dua orang tokoh yaitu kyai Abdul Ghofar dan KH Muhsonudin. hanya saja setelah bertransformasi kemudian didaftarkan di kementerian agama Republik Indonesia dan mendapatkan piagam madrasah. dengan nama Al Islam dan pendiri/penyelenggara di atas namakan Perguruan Islam.
adapun sekolah MTS adalah sekolah yang didirikan oleh KH muhsonuddin dan diselenggarakan oleh pondok pesantren Mambaul Huda.yang didirikan tahun 1985 dan didaftarkan di kementerian agama Republik Indonesia tahun 1987 dengan nama Al Huda
Adapun untuk guru TK adalah rekrutmen dari nyai Latifah dan Ny Hj nurul Istiqomah dan guru-guru MI adalah rekrutmen dari Kyai Abdul Ghofar dan KH Muhsonuddin, sedangkan guru-guru MTs adalah hasil rekrutmen KH Muhsonuddin dan Bapak Fahrurrozi melalui kenalan-kenalannya dan banyak dari mereka yang non nahdliyin, dan hal ini tidak menjadikan masalah oleh karena semua kendali masih berpusat dan ditangani langsung oleh beliau sebagai pemilik dan tokoh sentral yang mempunyai peran mutlak dan yang lainnya hanya Saman wa thoatan, keadaan seperti ini terus berlangsung hingga beliau meninggal dunia.
Ky Abdul Goffar Dan KH Muhsonuddin adalah dua orang tokoh yang saling bahu membahu dalam menyemaikan benih dan membidani lahirnya lembaga-lembaga pendidikan yang ada,hanya saja di tahun 80-an keduanya tampak berbeda dalam hal pandangan politiknya,yang satu tetap istiqomah dan yang lainya lebih fleksibel dan egaliter.
SEJARAH BERDIRINYA MTS ALHUDA
Adapun pendirian sekolah MTs karena dilatarbelakangi oleh kepedulian beliau terhadap pendidikan anak-anak yang pada masa itu masih banyak yang putus sekolah hanya sebatas tamatan sekolah tingkat dasar saja dan tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya baik anak-anak warga kaliabu dan sekitarnya maupun anak-anak pondok yang kebanyakan berangkat mulai mondok setelah tamat SD atau MI. Beliau sangat memperdulikan akan pentingnya pendidikan umum bagi anak-anak warga sebangsanya agar tidak tertinggal dengan yang lainnya lebih-lebih setelah beliau membaca buku terbitan tahun 1979 yang berjudul "bunga rampai pesantren",sebuah buku kumpulan artikel-artikel tulisan KH Abdurrahman Wahid yang dimuat di media massa, terutama artikel yang membahas tentang pentingnya pondok pesantren menyelenggarakan pendidikan umum. walaupun beliau sendiri menekankan kepada putra-putrinya untuk hanya fokus kepada pendidikan pesantrennya saja,hal ini karena beliau menjalankan pesan dari guru dipesantren salafnya. namun di sisi lain beliau adalah orang yang mengikuti perkembangan zaman dan orang yang rajin menyimak berita baik di televisi terutama acara dunia dalam berita maupun radio terutama berita BBC London dan beliau juga berlangganan koran harian kompas,suara merdeka, majalah Tempo,Amanah, Aula dan majalah Bangkit.
(1984) acara PIP di halaman pondok.1 KH Muhsonudin 2.Bapak Bupati M Solihin 3. Bapak Saifudin pegawai departemen penerangan
(1988) di halaman pondok acara Penutupan BLK
(1988) santri anak-anak memberikan hiburan di acara penutupan BLK
Kemudian di pertengahan tahun 80-an beliau KH muhsonudin tampak akrab dengan bupati Magelang bpk M Solikhin, dalam suatu masa bapak Bupati setiap malam Jumat selalu berkunjung ke kediaman beliau, beliau berdua selalu tampak asyik berbincang-bincang sampai larut malam. tidak ada yang tahu apa yang dibincangkan mereka berdua kecuali mungkin hanya sopirnya Bapak Bupati saja. namun pada saat acara pengajian beliau pernah berkata bahwa beliau berencana akan mendirikan sekolah Tsanawiyah dan Bapak Bupati dengan harta pribadinya sendiri bersedia membangunkan dua buah ruang kelas sebagai modal awal untuk tahun pertama proses kegiatan belajar mengajar, dan akan menyalurkan air bersih ke pondok dari sumber air yang berada di Area sawah salah satu jamaah tarekatnya di dusun sindon desa sambak. begitulah ujar beliau.
kedua janji Bapak Bupati itu semuanya terealisasi,hanya saja di kemudian hari saluran air tersebut justru malah menjadi cikal bakal PDAM. namun beliau tetap ikhlas dan berkata bahwa memang baiknya seperti itu.
kemudian beliau mengambil langkah-langkah:
langkah pertama beliau mencari lahan yang paling tepat untuk didirikan sekolah kemudian beliau menemui dan mengajukan tawaran kepada Ny Rubiah bagaimana bila tanah miliknya ditukar dengan tanah beliau yang jaraknya lebih jauh namun lebih luas guna untuk mendirikan sekolah, lalu Ny Rubiah dan putra putranya yaitu Bpk ahyan dan Bpk Ahmad Dawam menyetujui.
langkah kedua beliau menemui Bapak Burhan selaku kepala dusun kantor lalu bapak ikhsanuddin dan bapak komari selaku tokoh dusun Ngampel dan Bapak musa selaku tokoh dusun kopen untuk menggerakkan kerja bakti menebang pohon-pohon dan memadatkan tanah
langkah ketiga beliau memanggil Bapak Fahrurrozi yang berprofesi sebagai guru untuk rekrutmen calon guru-gurunya dan mempersiapkan segala administrasi nya
langkah keempat beliau menghubungi para tokoh-tokoh masyarakat dan alumni untuk mencarikan murid murid baru
Setelah tanah dipersiapkan,Bapak Bupati menepati janji nya membangunkan dua ruang kelas.dan kemudian sekolah mulai membuka pendaftaran dan mulai beroperasi tahun ajaran baru 1985. pada permulaan nya satu ruang untuk kantor dan satu ruang lainnya untuk kelas 1.namun sampai tahun kedua dan berikutnya belum bisa meneruskan pembangunan sehingga untuk kelas 2 dan kelas 3 masih menumpang di rumah warga diantaranya rumah Ny Rubiatun, rumah bapak Jamiri dan rumah Ny khomsatun, bahkan ketika muridnya bertambah banyak,kantor sekolah sempat berpindah sementara di teras MI dengan sekat pagar kayu namun kemudian pindah di rumahnya Bapak Fahrurrozi karena kemudian teras MI dijadikan perpustakaan.
dan kebetulan pada masa itu banyak tamu-tamunya yang dari kalangan pejabat yang membantu dan mendukungnya, bahkan bapak bupati sendiri yang menunjuk dan membuat surat keputusan untuk beliau menjadi LMD (lembaga musyawarah desa) desa kaliabu sehingga ruang geraknya semakin leluasa, di sisi lain juga ada 2 santri yang sudah sarjana dan ada 4 mahasiswa UGM sedang melakukan kegiatan KKN dipondok yang dikoordinasi oleh Bapak fahrurrozi untuk membantu ikut serta memenej dan mengajar walaupun hanya di awal awal proses pendirian Mts saja sebelum mendapatkan guru-guru yang menetap, dan mereka mereka ini juga diminta memberikan pelajaran ekstra kurikuler di sekolah MI.bahkan kemudian mereka mengajak dosen dan mahasiswa yang dari fakultas geologi dan teknik sipil untuk melakukan kegiatan observasi waterpassing untuk rencana konstruksi saluran air bersih dari sumber air yang berada di desa sambak kajoran. oleh karena itu proses pendirian sekolah MTs semuanya berjalan dengan mudah dan lancar.
Baru kemudian di tahun 1987 sekolah ini didaftarkan di kantor Kemenag sebagai persiapan untuk mengikuti ujian nasional dan ujian kelulusan yang pertama kalinya. dan di tahun ini mulai mampu membangun dan menambah dua ruang kelas lagi sehingga semua murid-murid tidak lagi menumpang di rumah warga.Namun saat itu untuk mengikuti ujian nasional masih menggabungkan diri dengan SMPN 1 Salaman dan ujian madrasah serta status afiliasinya masih menginduk kepada MtsN beseran Kaliangkrik dan ijazah kelulusanya masih atas nama MTsN kali angkrik.sebagai kepala sekolahnya adalah Bapak Fahrurozi namun kemudian di tahun tahun berikutnya dilanjutkan oleh Bapak Muh sutiyono BA dari desa Sriwedari.adapun BP3-nya adalah Ky komari dan TU pertamanya adalah Bapak Basuki yang tidak lama kemudian digantikan oleh ibu Khulasoh.
Bapak Muh Sutiono BA dan Ky Komari merupakan teman akrab KH Muhsonudin, mereka berdua sering tampak berkunjung ke kediaman beliau baik secara bersamaan atau sendiri-sendiri guna memberikan laporan-laporan dan membahas bab pengelolaan sekolah.
bila sedang sendiri-sendiri bapak Muh sutiyono biasanya datang pada waktu jam-jam sekolah akan tetapi bila kyai komari lebih suka waktu malam setelah isya. bila mereka sedang bertemu sering terdengar canda tawa dan pertemuan mereka diakhiri dengan makan bersama.dan terkadang bercampur dengan tamu-tamu yang lainya.
(1986) pembangunan kantor pondok dan ruang tamu
BERDIRINYA PONDOK ANAK-ANAK
Adapun diselenggarakannya pondok untuk santri kalangan anak-anak pada tahun 1986 karena dilatarbelakangi oleh jumlah murid sekolah MI yang semakin merosot karena banyak anak anak dan orang tuanya yang lebih memilih sekolah SD negeri yang pada masa itu dianggapnya lebih favorit walaupun sudah disosialisasikan melalui kyai-kyai pengasuh mushola dalam acara pengajian nya. dan diharapkan di kemudian hari bila telah lulus MI terus melanjutkan ke MTs. dan alhamdulillah pondok anak-anak ini mengalami perkembangan yang pesat,pada tahun 1991 sudah ada 300an santri anak-anak baik laki-laki maupun perempuan menyebar dari kelas TK sampai kelas 6 MI. dan sore harinya diselenggarakan kembali Madrasah Diniyah di ruang ruang kelas MI dan jamaah ashar bersama di masjid, yang ustad ustadzahnya diantaranya adalah Ky Nuhairi Ny Khumasiyah dan Santri santri senior.Dan pondok anak-anak ini diasuh oleh istri beliau Ny Hj Nurul Istiqomah,yang beliau sangat akrab dengan Ny Hj Suniyah tempuran yang juga pengasuh pondok anak-anak, dan mereka berdua juga sama-sama menjadi pengurus muslimat cabang Magelang.
Dan pada awal tahun 1995 beliau KH muhsonuddin berencana membangun gedung perpustakaan di tanah yang masih tersisa di sebelah timur ruang kelas MTS, yang sebelumnya pondok sudah ada perpustakaan bagian dari program PIP (pusat informasi pesantren) begitu juga sekolah juga sudah ada perpustakaan, namun beliau menginginkan supaya perpustakaan itu digabungkan dan diperuntukkan untuk kalangan umum agar lebih produktif dan manfaatnya lebih luas. kemudian beliau membentuk kepanitiaan dan mengadakan penggalian dana. namun rencana ini belum sempat terwujud hingga beliau meninggal dunia.
MENUNAIKAN IBADAH HAJI DAN HARI WAFATNYA
foto pemberangkatan haji di halaman pondok 1990
foto haji di Makkah 1990
foto wafat dimasjid 1995
KH mushonudin dan istrinya Ny Hj Nurul Istiqomah menunaikan ibadah haji pada tahun 1990.dan 5 tahun kemudian beliau wafat meninggal dunia tepatnya pada jam 00.03 WIB malam Jumat Pon 15 Desember 1995M/22 Rajab 1416 H. di RS Dr Sardjito Yogyakarta.
Penulis:K.H. M Aminuddin Muhson
0 Komentar